Kamis, 15 Oktober 2015

Rangkuman Buku "Keruntuhan Jurnalisme" Karya Dudi Sabil Iskandar



Nama : Yustinus David Kurnianto
NIM : 1571500998


KERUNTUHAN JURNALISME


PROLOG


Apa yang sesungguhnya terjadi pada dunia jurnalisme kita, saat ini? Kabar kebohongan berserakan; tanpa verifikasi fakta; tuna cover all-sides; tak ada tanggung jawab; buta hati nurani. Isinya fitnah, sumpah sumpah serapah dan caci maki. Semuanya dipakai satu hal, kepentingan! Tugas suci, fungsi mulia, dan nilai luhur jurnalisme tenggelam (ditenggelamkan secara kasat mata); dikubur tanpa nisan; hilang tanpa bekas. Masyarakat hanya melongo; publik bengong semata. Jurnalisme diambang kehancuran; atau memang sudah ambruk; tidak menyisakan apapun selain seonggok fakta dan segepok data yang dipermainkan. Fakta ‘diperkosa’ dan opini diarahkan untuk memuaskan syahwat di luar jurnalisme. Kekuasaan, ideologi, politik, uang, kepentingan! Kewajiban utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran. Ironisnya kebenaran adalah sesuatu yang abstrak dan sulit didefinisikan, bahkan cenderung kontroversial. Kewajiban jurnalis adalah menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif.

BAB I 
Indikator Keruntuhan Jurnalis


A.    Jurnalisme Bias

Harus diakui kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, memang unik dan fenomenal. Unik karena gaya kepemimpinan yang ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan yang ada mulai tingkat presiden, gubernur, walikota, hingga bupati. Jokowi selalu turun ke lapangan atau blusukan; tidak mau menerima laporan Asal Bapak Senang (ABS).

Jokowi merupakan figur pemimpin yang rela berkotor dengan lumpur. Ia bukan sosok yang berada di menara gading; tidak terpengaruh riuhnya wacana lisan dan omomg besar seperti pejabat publik lain. Jokowi bukan pemimpin yang jago teori minim aksi atau No Action Talk Only (NATO).
Kunci utama keberhasilan kepemimpinan dalam bentuk dan level apapun adalah perbuatan, bukan sejumlah orasi, segepok konsep, atau segenap perintah. Blusukan adalah kata kerja Jokowi, berselancarlah dengan Mbah Google kita akan menemukan ratusan pengakuan warga yang menemukan Jokowi sedang blusukan tanpa wartawan.

“Satu perbuatan lebih bermakna daripada seribu kali perkataan.” Kalimat itu yang saya Jokowi menjadi trendsetter dan unggul. Inilah yang dikatakan Dahlan Iskan bahwa Jokowi adalah arus besar kecintaan rakyat, dia tidak bisa dibendung. Jokowi menjadi oase ditenganh kelelahan di tengah kelelahan masyarakat bawah yang berharap memiliki pemimpin yang bisa memperbaiki taraf kehidupan mereka.

Tak Kritis

Menurut teori jurnalistik, unik dan memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari news values (nilai berita). Dua nilai berita itu ada pada diri Jokowi. Satu nilai berita lain yang tidak sengaja dimiliki Jokowi adalah proximity (kedekatan). Liputan media tentang Jokowi meningkat drastis, dramatis ketika ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Hal ini disebabkan semua media mainstream ada di Ibu Kota. Benar adanya ketika ia menjadi Walikota Solo, Jokowi sudah menjadi media dearling.Nyaris tidak pernah ada berita miring/negatif tentang Jokowi.


B.     Jurnalisme dan ‘Amplop Besar’

Dalam konteks percepatan produksi berita sesungguhnya profesi wartawan merupakan profesi yang terjajah; profesi yang tidak memiliki pencerahan kecali bekerja, bekerja, dan bekerja;profesi mekanistik; mesin yang harus terus terproduksi karena tuntutan pemodal. Tidak penting wartawan menghasilkan tulisan bagus; memproduksi analisis mendalam kalau tidak laku dijual. Berita buruk atau berita pesanan pun jadi yang terpenting laku dijual; menghasilkan laba; perusahaan untung. Berita jatuh menjadi pendiktean oleh kekuatan modal, hasilnya adalah manipulasi informasi untuk kepentingan masing-masing kelompok. Bukan hanya memberi keuntungan finansial tetapi juga ia memiliki agenda terselubung (hidden agenda).

Harus diakui, di negeri ini pengusaha media bukanlah berasal dari wartawan yang idealis, meski kita tidak menutup beberapa media untuk perjuangan walaupun berdarah-darah. Para pembisnis akan melihat informasi tak lebih dari suatu komoditi yang diperjualbelikan dengan mengabaikan makna sosial, budaya atau politik dari informasi tersebut.

Pengusaha media adalah pengusaha yang bukan orang sabar dalam berinvestasi jangka panjang tetapi yang mencari keuntungan secepatnya dengan memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan Dekat dengan kekuasaan dekat dengan sumber dana/kauangan. Untuk dekat kekuasaan politik perlu memiliki dalam bentuk kekuasaan lain. Kekuasaan lain yang sangat penting adalah media oleh sebab itu, jika kekuasaan politik dan kekuasaat media bersatu, bersinergis, maka uang dengan sendirinya akan mengalir. Inilah rumus sederhana pengusaha media, inilah yang penulis sebut dengan amplop besar.

C.     Jurnalisme dan Budaya Copy Paste

Kehariran teknologi komuikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan percepatan dan kecepatan dalam dunia jurnalisme, khususnya berkaitan dengan produksi berita diberbagai media. Komunikasi dan informasi berkembang ke arah penggelembungan (exrescence), yang menciptakan masyarakat kegemukan (exrescentral society); kegemukan informasi, komunikasi,tontonan,berita dan data.

Dalam konteks jurnalisme, misalnya, percepatan dan kecepatan produksi telah mengubah alur berita dan kinerja bagi kru redaksi dan hasil berita bagi masyarakat. Berita yang harus berangkat dari kejadian atau peristiwa yang semula baru bisa dinikmati esok harinya melalui surat kabar, kini berubah dramatis dan drastis. Semua media, khususnya online berlomba menyajikan yang baru; mereka mengajar kesegeraan.

Munculnya internet sebagai dari teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan kejadian tidak langsung menjadi wacana di media konvensional. Ia terlebih dahulu masuk dan menjadi wacana dimedia sosial; Twitter, Facebook, misalnya. Dari sinilah muncul di istilah citizen journalism. Setelah bergema di media sosial, kejadian tersebut diangkat menjadi berita secara berurutan oleh media konvensional mulai online, radio, televisi, surat kabar, dan majalah.

Di sisi lain, kemajuan teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas. Untuk apa memverifikasi fakta, mengejar narasumber ysng kualifaid, dan mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) jika semua persyaratan kejadian menjadi sebuah berita bisa diseesaikan memalui teknologi komunikasi dan informasi seperti telepon, pesan pendek (short message service), blackberry messager (BBM), WhatApp, Telegram dan seterusnya. Dalam kasus berita kriminal, tidak penting mencari saksi mata sebagai sumber utama berita selama ada keterangan dari kepolisian.
Makanya sangat lucu ketika suatu waktu ada wartawan yang melihat pembunuhan harus konfirmasi ke polisi  yang tidak mengetahui kejadian. Efek negatif dari budaya copy paste adalah mengumpulkan sense of news. Wartawan hanya sekedar memenuhi target berita yang dibebankan perusahaan. Penciuman terhadap berita diasah melalui pengalaman di lapangan (field of experience).

Semakin lama di lapangan kian banyak pengalaman, kian tajam mengendus berita. Sebaliknya wartawan yang hanya mengandalkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi akan kehilangan kreatifitas.

D.    Jurnalisme Pembuat Heboh

Pada saat kejatuhan rezim Soeharto 13 tahun silam, revolusi di belahan Afrika kredit perumahan yang macet di America Serikat, dan berbagai peristiwa besar lainnya yang pernah menggemparkan jagat ini. Peristiwa-peristiwa besar itu mengubah peta perjalanan secara radikal bagi yang mengalami atau terkena imbas kejadian tersebut.

Dari peristiwa diatas, pertayaan mendasarnya, apakah media massa merupakan faktor dominan dari sebuah peristiwa besar atau hanya sebuah tools sebagaimana tools lainnya ? Ataukah ia menciptakan peritiwa besar lainnya yang berbeda dengan peristiwa yang diberitakan ?
Sebuah peristiwa terjadi atau sebuah realitas dibuat karena ia organis, sistemik, dan komprehensif dengan setting social yang ada.

Konstruksi Sosial Media Massa

Salah satu pembentuk konstruksi di dunia modern adalah media massa. Media massa itulah ia memunculkan teori baru sekaligus revisi terhadap Berger dan Luckman dengan tiga terminologi yaitu eksternalisasi, subjektivikasi, dan intersubjektif. Inti dari teori ini terletak pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas yang disebarkan oleh media massa sehingga konstruksi sosial berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang dibangun media massa tersebut membentuk opini publik, massa cenderung apriori, dan opini massa cenderung sinis.

Ada empat tahapan kelahiran konstruksi sosial media massa. Yaitu, penyiapan materi konstruksi, sebaran konstruksi, pembentuk konstruksi realitas, dan konfirmasi. Dari empat tahapan itu melahirkan dua model konstruksi realitas media massa, yaitu model analog dan refleksi realitas. Model pertama terjadi dan dibangun secara rasional dan dramatis terhadap suatu kejadian. Dari sini masyarakat mendapat realitas yang dikonstruksi media massa dari sebuah peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Namun, realitas yang dikonstruksi media massa bukan realitas sebenarnya. Sedangkan model yang kedua terbangun dari refleksi yang pernah terjadi dalam masyarakat.

Konstruksi Berita

Sebuah berita di satu media, khususnya, surat kabar bukan hanya rangkaian fakta yang tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraph. Ia juga merupakan representasi dari pikiran dan sikap penulis (reporter) dan asisten redaktur serta redaktur (editor). Minimal segala latar belakang budaya, pergaulan, dan pendidikan wartawan (reporter dan editor) sangat mempengaruhi bagaimana fakta dikonstruksi dalam sebuah berita.

Gaya penyajian juga memuat berbagai warna. Dengan demikian mulai mencari, menemukan, dan mengkonstruksi fakta, wartawan sudah dikonstruksi dengan berbagai hal yang tidak netral dan independen. Dengan kata lain tidak ada teks media atau berita yang sepenuhnya objektif atau hanya kumpulan fakta yang dijadikan data untuk sebuah tulisan. Selalu ada campur tangan pikiran dan sikap penulis serta editor atau bahkan kebijaksanaan redaksi (institusi atau pemilik) surat kabar tersebut.
Ada tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita di surat kabar, yaitu ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena faktor pemilik atau nilai-nilai yang dihayatinya.

Pertimbangan politis berangkat dari kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik. Apalagi pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Sedangkan kepentingan bisnis berkaitan dengan pemasukan dari iklan. Ketiga pertimbangan itu juga berpengaruh pada sudut pandang berita. Makannya tidak ada berita yang netral, tuna ideology, dan tanpa kepentingan.
Penempatan berita pada headline akan berbeda pengaruhnya di benak publik atau pembaca dengan berita yang diletakkan bukan headline. Selain itu kelengkapan sebuah berita seperti unsure 5W + 1H (what, who, when, why, and how) foto, grafis, dan ilustrasi juga menentukan ketertarikan masyarakat terhadap berita tersebut. Tidak semua peristiwa bisa dibuat berita. Semuanya tergantung sudut pandang (angle) yang mau diambil oleh redaksi yang keputusannya ditentukan oleh kebijakan redaksi.

Era Baru Konstruksi Media

Kemunculan media akses yang berbasis internet kian mempertajam efek media. Internet memiliki kemampuan yang belum ada sebelumnya untuk memperkembangkan bentuk baru relasi sosial. Selain sebagai media akses, internet juga kerap disandingkan sebagai konvergensi media dan media internal. Kini, hamper semua media cetak dan elektronik membarenginya dengan bentuk berita online, e-paper, dan live streaming.

Harus diakui internet menciptakan kebebasan individu yang tidak pernah ada dan terbayangkan sebelumnya. Tanpa sekat cultural apapun seperti etnis, ras, agama, geografis, dan strata sosial. Dalam situasi dan kondisi ini kontrol etika dan moral mengendur.

E.     Jurnalisme Tanpa Konfirmasi

Ketika ditetapkan sebagai sebagai dalam kasus Sisminbakum, Kementrian Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra mengeluhkan adanya pembunuhan karakter dan masa depan karrier politiknya. Tuduhan korupsi menjadi senjata paling ampuh merontokkan lawan-lawan politiknya. Adanya hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan secara langsung menjelaskan representasi dari hubungan ‘power-knowledge’

Dalam konteks itulah sesungguhnya korupsi sebagai agenda setting tersendiri dari masing-masing media. Tentu saja berita korupsi yang diangkat tergantung ideology dan kepentingan media bersangkuita.

Yang paling kentara dalam bisnis korupsi di media adalah berita tanpa konfrimasi. Kalimat SAMPAI BERITA INI DITURUNKAN YANG BERSANGKUTAN, TELEPON TERSANGKA TIDAK BISA DIHUBUNGI, PESAN SINGKAT TIDAK DIBALAS, DAN EMAIL DARI REDAKSI BELUM DIWAJIBKAN.

Kalimat itu dianggap media hari ini sebagai konfirmasi. Padahal jenis hal tersebut bukan konfirmasi, tetapi usaha untuk konfirmasi. Sesuatu yang belum menunjukan tidak terjadi. Anehnya, kalimat di atas sudah menjadi kebenaran, doktrin, dan judgement sebagai konfirmasi.

Berita Tanpa Verifikasi

Berbekal keterangan sepihak dari kepolisian dalam konferensi pers, media manut saja seperti kerbau dicocok hidungnya. Hingga saat ini penulis belum menemukan media yang melakukan verifikasi data dan fakta tentang stempel terorisme pada seseorang. Semua media nyaris sama : percaya buta dengan apa yang dikatakan polisi.

Apa itu verifikasi fakta? Lagi-lagi jika mengacu pada dua mbah jurnalisme Konach dan Rosentiels. Keduanya mengatakan ada lima item indikator dalam verifikasi fakta. Yaitu :
1.      Wartawan jangan menambah atau mengarang apa pun.
2.      Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, bersikaplah setransparan.
3.      Sejujur mungkin tentang metode dan inovasi,
4.      Bersandarlah terutama pada reportase sendiri, dan
5.      Bersikaplah rendah hati.
               
Filter Konseptual

Pesan yang di berikan media tidak serta merta mempengaruhi sikap dan perilaku khalayak. Sebab individu itu memiliki filter konseptual atau daya tangkal untuk menyaring informasi tersebut. Filter tersebut berasal dari hasil interaksi dengan sesame individu lain dalam bentuk pengalaman yang di dukung oleh pengetahuan yang dimilikinya.

Penyebutan/penulisan terorisme di media mengandung implikasi di benak public. Media seharusnya menurut Kovach dan Rosentiel berpihak pada warga bukan Negara atau kekuasaan. Namun dalam konteks berita terorisme, media melakukan sebaliknya. Mereka berpihak pada Negara atau kekuasaan.

F.      Jurnalisme, Adakah Etika?

The Jakarta Post edisi Jumat, 4 Juli 2014, secara mengejutkan tiba-tiba memuat sebuah tajuk yang di luar perkiraan pembacaanya. Tulisan berjudul Endorsing Jokowi adalah mengungkapan dukungan Koran tersebut terhadap pencalonan Jokowi menuju RI-1. Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Medyatama Suryodiningrat memiliki alas an atas pengambilan sikap pemihakan tersebut.

Di kalangan penggiat jurnalisme dikenal doktrin, bahwa media bersikap melalui opini (bukan factual) yang tertera di rubric editorial atau tajuk rencana.Menurut pakar komunikasi Ibnu Hamad, ada tiga strategi yang di gunakan media untuk membuat wacana. Yaitu, signing framing, dan priming. Signing adalah penggunaan tanda-tanda bahasa, baik verbal maupun non-verbal Framing adalah pemilihan wacana berdasarkan pemihakan dalam berbagai aspek wacana. Sedangkan Priming berarti mengatur ruang atau waktu untuk mempublikasikan wacana dihadapan khalayak. Ia menggunakan Framing, Priming, dan Signing.

Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all (multi) sides. Verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi untuk menjamin memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan public pun mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan. Pertanyaannya, adakah etika jurnalisme di negeri ini? Penulis ragu; pesimistis.



BAB II
PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME



A.      Postmodernisme

Alam pikirpostmodern mengutuk apapun, tetapi tidak mengusulkan apapun. Jika mengikuti tiga fase kehidupan manusia versi August Comte (mistis, teologis, dan positivis), peralihan zaman dari mistis ke metafisis diguncang oleh munculnya agama. Kasus penyaliban Jesus dan pemusnahan Nabi Muhammad SAW adalah contoh bagaimana kemunculan zaman baru selalu ditentang kelompok pro-status quo. Galileo dan Galilei adalah korban kaum agamawan. Istilah postmodernisme pertama kali diapungkan oleh Frederico di Onis pada 1930-an dalam karyanya Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana. Sejarawan kondang Arnold Toynbee menggunakan istilah ini dalam A Brief History. Menurutnya fase postmodernisme ditandai dengan gejolak, perang, revolusi yang menimbulkan anarki, rutuhnya rasionalitas, dan pencerahan. Benih benih pemikiran postmodernisme sudah ada sejak Thomas Khun melontarka gagasan tentang paradigm. Gagasan Khun tersebut dikemas dalam istilah The Structure of Saintific Revolution.

Masyarakat postmodernisme adalah masyarakat yang secara financial pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat masyarakat modern terlampaui. Menurut Yasraf Amir Piliang, kritik terhadap modernisme dilakukan dalam dua arah. Pertama, kritik diri (self-critism) seperti yang dilakukan Madzhab Frankfrut, Habermas, Adorno, Horkheimer, Marcuse yang mencari titik-titik kritis ideologis dari modrnitas dalam melanjutkan proyek modernitas yang belum rampug. Kedua, kritik dari luar modernitas atau yang ingin meruntuhkan modernitas yang dianggap telah kehilangan daya utopisnya. 

Gejala Postmodernisme


Postmodernisme merupakan gerakan kontemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Dari sudut postmoderisme mengandung masalah. Ia menyimpan ambiguitas dan ketidakjelasan sosok. Salahsatunya penggunaan imbuhan “post” dan “isme” digunakan “sesudah” atau “melepaskan diri”, pendekatan tersebut terlalu diametral, hitam putih. Dari sudut itu sebenarnya modernisme bukan lari dari paradigm modern, tetapi modern yang radikal. Yang paling menggegerkan adalah postmodernisme tidak bisa didefinisikan atau dikonseptualisasikan karena bertentangan dengan sesuatu yang sangat diharamkan oleh postmodernisme, yakni kesatuan. Postmodernisme adalah gelombang kritik paling mutakhir terhadap modernisme yang menjadikan sains, rasionalitas suatu “teologi” baru yang menghasilkan kebudayaan matematis, kalkulatif, monolitik dan kering batin.

Singkat kata, postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala paradigm-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. Anti kemapanan dan perlawanan merupakan basis utama postmodernisme.
             
Ajaran Pokok

Gagasan postmodernisme adalah semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokoknya teks; apapun adalah makna makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi” pandangan yang objektif perlu dicurigai; dan hermenetika (dipahami sebagai aliran filsafat yang bertujuan menafisrkan realitas sebagai teks) adalah nabinya. Secara tegas Lyotard menyatakn postmodernisme adalah suatu periode ketidakpercayaan pada narasi-narasi raksasa yang sifatnya universal dan esensial semakin gencar. Kesatuan sejarah digeser dengan kemajemukan dan sejarah local yang tidak bisa diletakkan dibawah satu paying narasi besar. Beberapa cirri yang bisa didefinisikan antaralain, menghargai perbedaan, relativitas, keberagaman alas an, membuka semua teori, tanpa titik akhir. Kemerdekaan pribadi menjadi ukuran utama dalam dunia postmodernisme ukura ini kian semakin tidak jelas.

Secara sederhana ajaran pokok postmidernisme terdiri dari : Pertama, menolak universalitas. Kedua,menolak ideologi. Ketiga, menolak obyektivitas. Keempat, mengkritik semua jenis sumber ilmu pengetahuan. Kelima,menolak metodologi yang tetap dan pasti.

Karakteristik

Terdapat beberapa keywords postmodernisme. Yakni, relativitas, pluralism, makna, era media, dan kehidupan metropolis. Melalui postmodernisme , kata Gellner, gerakan itu bisa dilihat pada antropologi filsafat dan sastra dan hubungan ketiganya semakin dekat satu dengan yang lainnya dibandigkan dengan yang sebelumya.

Tokoh

1.       Jean Francois Lyotard (10 Agustus 1924 – 21 April 1998)
Lyotard dianggap sebagai pentolan postmodernisme nomor wahid. The Postmodern Codition: A Report on Knowledge (1948), dijadikan acuan dalam mendalami filsafat postmodernisme. Inti gagasan Lyotard adalah runtuhnya narasi narasi besar yang selama ini diusung kaum modernism.

2.       Jacques Derrida ( 15 Juli 1930 – 9 Oktober 2004 )
Gagasan pokok Derrida adalah dekonstruksi. Dalam pandangannya, system filsafat barat yang selama ini menjadi akar modernisme harus diruntuhkan dan kemudian membangun pola piker yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada. Dekonstruksi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menerangkan lembaran baru dalam filsafat, strategi intelektual, atau model pemahaman.

3.       Michael Foucoult ( 15 Oktober 1926 – 25 Juni 1984 )
Gagasan pokok Foucoult adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Baginya, kekuasaan dan pengetahuan ibarat dua sisi mata uang yang sama (two sides of the same coin).

4.       Jean Baudrillad ( 27 Juli 1929 – 6 Maret 2007 )
Berbeda dengan Lyotadr Derrida, dan Foucoult yang bermain dalam ranah epistemologi. Jean Baudrillad mengkaji dalam dimensi postmodernisme yang nyata yaitu kebudayaan. Dari kajian tentang kebudayaan kontemporer inilah gagasan simulasi dan hyperreality muncul. Istilah tersebut hadir setalah memotret keterputusan budaya dalam realitas masyarakat dewasa saat ini. Semuaya disebabkan oleh terpaan media massa.
         
Simulasi adalah penciptaan keadaan melalui model atau yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak jelas juntrungannya (mitos) sehungga keenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam realitas keseharian manusia. Keyword dari simulasi adalah model.

B.      Cultural Studies

Communication is founding of our culture

Mengerikan, begitulan kesan pertama membaca tentang teori komunikasi cultural studies. Rumit, kompleks, da ibarat harus mengurai benang kusut. Tidak tau darimana mulainya. Dalam cultural studies perspektif teori komunikasi kita harus bertemu dan bergelut dengan pendekatan dan istilah dekostruksi, hermeunetika, semiotika, makna, hegemoni, postmodernisme, dsn relativitas. Secara tradisional, istilah-istilah tersebut yang tidak berhubungan dengan ilmu komunikasi tetapi dengan akrab dalam kajian filsafat.

Kegalauan Sematik

Futurology Ziauddin Sardar mencatat 5 karakter utama cultural studies yaitu :

1. Cultural bertujuan meneliti subyek masalah disekitar praktik budaya dan hubungannya terhadap kekuasaan. Misalnya studi subbudaya kehidupan kaum pekerja muda kulit putih di London, ditengarai sebagai praktik social kaum muda dalam hubungannya dengan kelas dominan.

2. Memiliki tujuan obyektif dalam memahami budaya dan bentuk bentuknya yang kompleks dan menganalisis konteks social dan politik dimana budaya itu sendiri terwujud.

3. Obyek study dan posisinya adalah kritisisme dan aksi. Misalnya, tidak hanya peran peneliti studi budaya mempelajari obyek, tetapi ia menghubungkan studi ini kearah yang lebih besar, yakni kancah politik progresif.

4. Berusaha membuka dan rekonsiliasi terhadap pengetahuan budaya dan bentuk obyektif pengetahuan.

5. Memiliki komitmen pada evaluasi etnik masyarakat social dan aksi politis barisan radikal. Inilah yang disebut fikse sebagai tanpa komunikasi kebudayaan dari jenis apapun akan mati.

Sejarah

Cultural studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris melalui Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard Hoggart dan Raymond Williams. Namun, cultural studies menemukan kejayaanya di tangan Stuart Hall.

Salah satu pemicu munculnya culture studies adalah kegagalan teori Karl Marx. Bahwa akan muncul revolusi yang di lakukan kaum protelar. Ada dua jalur genealogi cultural studies. Pertama, melihat kebudayaan sebagai efek hegemoni. Istilah hegemoni, di apungkan Antonio Gramsci. Hegemoni berarti dominasi yang berlagsung tidak dengan cara paksaan yang kasat mata melainkan dengan persetujuan pihak yang di dominasi. Dalam bingkai hegemoni inilah keudyaan  terbentuk. Kedua, yang mendapat banyak pengaruh dari pemikiran poststruktualisme Perancis, terutama Foucalt, menggeser perhatiannya dari kontra-hegemoni dan resistensi terhadap kekuasaan menuju perayaan terhadap kemajemukan satuan-satuan kecil. Bagi cultural studies, media sebenarnya memiliki potensi untuk meningkatkan kesadaran penduduk tentang isu-isu kelas, kekuasaan, dan dominasi.

Definisi

Cultural studies merupakan kritik atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter and through which all move”. Setidaknya kita menemukan dua batasan yang dapat memberikan penjelasan tentang konsep ini. Pertama, adalah ide umum dimana masyarakat atau kelompok memahami ideologinya, atau cara-cara kolektif yang di gunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua, budaya di mengerti sebagai praktik-praktik atau  keseluruhan cara hidup suatu kelompok apa yang di lakukan individu secara material dari hari ke hari kelompok di hasilkan dan di reproduksi dalam praktek-praktek ideologi tersebut.

Asumsi Dasar

Semua asumsi dasar dalam kajian budaya diwarnai oleh pemikiran marxis. Ada dua pengaruh penting dari marxisme terhadap kajian budaya. Pertama, untuk memahami kebudayaan. Kedua, kajian budaya mengasumsikan bahwa masyarakat industri kapitalis merupakan masyarakat yang terbagi-bagi secara tidak adil di kalangan etnik, gender, generasi, dan kelas.Secara singkat asumsi cultural studies terdiri dari pertama, culture pervades and invades all facets of human behavior. Kedua, people are part of a his hierarchical of power.

Paradigma

Ciri utama cultural studies adalah menempatkan teori kritis sebagai basis analisis. Pengertian teori kritis disini mencakup metode metadisiplin (semiotika, filologi, dan hermenetika) dan post-disciplinary (mengabaikan ilmu alat ketika analisa dirasakan telah mencapai upaya membangun teori baru. Karakteristik lain adalah penolakan terhadap esensialisme dalam kebudayan. Cultural studies muncul dari ketidakpuasan terhadap peradigma pragmatis-positivistik yang sangat kuantitatif karena berhubungan dekat dengan tradisi riset ilmu-ilmu kealaman (natural scientific).

Tokoh Kunci

Dalam perkembangannya, asumsi-asumsi dasar ilmu komunikasi positivis mulai dipertanyakan. Beberapa asumsi dasar itu mulai mendapatka kritik yang keras. Hal yang dipertanyakan kembali misalnya asumsi bahwa fenomena komunikasi berlangsung secara linear dan sinkronik. Salah seorang tokoh yang gencar mengkritik asumsi-asumsi dasar tersebut adalah Hall.

Pada titik ini, Hall bukan berperan sebagai perintis atau pelembaga sebuah ilmu, ia berperan sebagai “pembongkar” ilmu. Pembongkar ilmu juga diperlukan untuk ilmu itu sendiri. Melalui para pembongkar ilmu seperti Hall inilah sebuah ilmu akan terus berkembang dengan dinamis. Kita mengenal ilmu komunikasi yang lebih kaya konsep seperti sekarang antara lain berkat kontribusi hal.


BAB III
KEMUNCULAN JURNALISME BARU


A. Jurnalisme dan Citizen Journalism

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi memberikan kemajuan dalam salah satu aspek kehiduan manusia, khususnya dalam berbagi informasi sesame anak manusia.

Kooptasi Media

Komunikator pada komunikasi massa (yang bernama institusi media tradisional) tidak mau kehilangan Kapital, pengaruh, dan penghasilan dalam mentransfer pesan komunikasi.

B. Jurnalisme dan Ideologi

Ideology, kata Raymond Williams seperti dikutip John Fiske digunakan dalam tiga perangkat.
Pertama, system keyakinan yang menandai kelas tertentu.
kedua, suatu sistem ilusioner.
ketiga, proses umum produksi dan gagasan.

Mengikuti penggunaan tersebut, ideology memiliki karakteristik yang khas yakni adanya keyakinan, gagasan, kelompok tertentu, pandangan menyeluruh, politik dan bersifat public. Karena itu lah ideology kerap disandarkan dengan kekuasaan dan budaya politik tertentu.

C. Jurnalisme dan Konvergensi Media

Konvergensi adalah perubahan teknologi, indsutri, budaya dan sosial dalam lingkaran media termasuk didalamnya budaya kita.
Sudah berulang kali dan banyaknya pakar media yang meramalkan kematian media cetak. Pada awalnya kemunculan radio, kemudia televise dan terakhir internet yang akan membinasakan media cetak.

Jurnalistik Interpretatif

Dengan konvergensi media, berita yang dahulu disebut mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi, kini definisi tersebut berubah menjadi persitiwa yang sedang terjadi. Bahkan, jika kita menggunakan paradigme jurnalisme interpreatif, berita bisa juga peristiwa yang akan terjadi. Berita interpreatif adalah sebuah pola berita dimana peristiwa hanya sebagai cantolan berita.

D. Jurnalisme dan Krisis Berita

Kita mendapat informasi dan sumber yang dipercayai sangat berpengaruh pada identitas masa depan. Dengan teknologi yang ada saat ini yang merambah semua industri, termasuk media, seperti apa bentuk media kita saat ini?

Yang pasti media-media besar akan semakin ketinggalan dalam melaporkan berita dari seluruh dunia.
Dalam banyak cara, media akan tetap menjadi media penting dan menyatu dengan masyarakat, tetapi banyak yang tidak akan bertahan dengan bentuk saat ini.

E. Jurnalisme dan Media Baru

Jurnalisme menjadi pilar keempat demokrasi pada abad ke-18 dan 19. Ia menjadi bagian tak terpisah dari kemuncul suatu sistem sosial dan politik yang lebih demokratis di eropa dan amerika utara.
Surat kabar awal dibidang sastra merupakan cikal bikal editorial atau tajuk rencana pada sebuah media. Ia merupakan sikap resmi redaksi terhadap suatu masalah.

Bisnis surat kabar mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-20. Selain meperoleh keuntungan besar, Koran pun mempengaruhi kenijakan publik dan memiliki suara dalam politik internasional.
Ada beberapa implikasi dan konsekuensi perubahan waktu untuk jurnalisme. Yang paling penting menyangkut pergeseran dari jurnalisme sebagai penyelidikan atau analisis untuk jurnalisme sebagai publikasi langsung.

F. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining

Komunikasi mengenal dua muadzhab. Yakni, aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran pertukaran makna (madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah yang tertua. Makanya komunikasi selalu diidentikan dengan penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan. Sedangkan aliran pertukaran makna digagas belum lama ini. Sekitar tiga decade lalu. Untuk perkembangan ilmu pengetahuan usia 30 tahun tidak ada apa-apanya.

G. Jurnalisme dan Pertukaran Makna

Berita adalah tulisan, tayangan, atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat  atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan kontruksi 5W1H .

H. Jurnalisme Interpreatif

Seperti dikemukakan dibeberapa tulisan sebelumnya, kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online) telah menggeser model pemberitaan dimedia cetak, khususnya surat kabar.

Berita Sebagai Rekontruksi Realitas

Sebuah berita disatu surat kabar bukan hanya rangkaian fakta yang tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraph. Ia juga merupakan representasi dari pikiran dan sikap penulis (reporter) dan asisten redaktur serta redaktur (editor), plus kebijakan redaksi yang tertuang dalam editorial atau tajuk rencana.

Semua yang disajikan media kepada khalayak memiliki atau memiliki ideology, mengandung kepentingan, dan nilai dari lembaga media tersebut.

I. Jurnalisme, Agama, Dan Pertanggugjawaban

Indonesia bukan Negara sekuler. Pun, tidak menganut Negara agama. Dinegeri ini tidak ada agama yang diakui atau dinafikan. Semuanya boleh hidup selama menyebarkan kedamaian dan perdamaian.
Selama ini agama dipahami secara parsial, kalau tidak dikatakan salah. Agama hanya dipahami seperangkap konsep yang mengawang-awang.

Pertanggungjawaban

Adalah dua mbahnya jurnalistik, Bill Kovach dan Tom Rosentiels, yang mendeklarasikan elemen utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran, ironisnya kebenaran adalah suatu yang abstrak dan sulit untuk didefinisikan, bahkan cenderung kontroversial.